Beranda » Pancasila dan Jati Diri Bangsa (Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945-2021)

Pancasila dan Jati Diri Bangsa (Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945-2021)

Bogor”Warta-Terkini

Peringatan hari Lahir Pancasila yang jatuh pada hari ini, 1 Juni 2021 gagap gempita dirayakan seluruh elemen anak bangsa. Meme, flayer, twibon dan ucapan bertebaran dimedia sosial dengan berbagai macam ragam. Terlihat indah dipandang mata.

Pertanyaannya adalah apakah semua hanya seremonial semata atau ada pemaknaan mendalam tentang sebuah peristiwa hari yang setiap tahun dirayakan tersebut. Intinya adalah apakah nilai-nilai Pancasila sudah menjiwa dan meresap didalam diri kita?

Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia. Pancasila harus menjadi nilai hidup sehari-hari bangsa Indonesia. Pancasila merupakan konsensus bersama dari Founding Father pendiri bangsa ini. maka harus dijaga dan dilestarikan nilai-nilainya. Jika tidak maka berpotensi terancam, terkikis bahkan bias punah.

Penulis dalam kesempatan ini mencoba mengangkat 3 nilai penting dalam Pancasila yang hari hari ini semakin dipinggirkan dalam jati diri bangsa yaitu agama, musyawarah dan gotong royong.

Agama, musyawarah dan gotong royong menurut penulis adalah 3 nilai yang kedudukannya sangat utama dan sangat penting. 3 nilai tersebut merupakan ruh dalam Pancasila yang harusnya jadi representasi orang Indonesia.

Ketika kita mengaku orang Indonesia maka 3 nilai ini akan selalu ada dalam diri kita dan meresap, tidak akan pernah lepas.

Agama merupakan nilai penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara namun akhir-akhir ini banyak pihak yang justru membenturkan nilai agama dengan pancasila. Contoh dalam kasus yang sedang ramai yaitu proses tes wawasan kebangsaan (TWK) ASN pegawai KPK.

Dimana banyak pertanyaan ke calon ASN dalam rangka memerangi radikalisme justru mengdiskreditkan nilai-nilai agama. Seperti Jilbab, Al Quran, Ormas Islam, dan Khilafiyah dalam Praktek Ibadah.

Sedangkan musyawarah dan gotong royong ibarat dua sisi mata uang koin satu dalam kesatuan satu dalam perbedaan namun tidak mungkin bisa di pisahkan kedua sisinya. Tidak akan ada gotong royong jika tidak diawali dengan musyawarah begitupun sebaliknya tidak akan ada musyawarah kecuali menghasilkan gotong royong.

Baca:  Sampah menumpuk tak kunjung di Angkut: diduga pemerintah tutup mata

Dengan bermusyawarah akan terbangun kebersamaan sikap, seperti senabib sepenanggungan, sehidup semati, sejalan seikatan, susah senang ditanggung bersama, makan tak makan asal kumpul, ringan sama dinjinjing berat sama dipikul. Ini semua yang akan melahirkan keguyuban, persatuan dan saling menguatkan satu sama lain.

Ada keberkahan dalam musyawarah dari Allah SWT tuhan yang maha esa yang membuat kita semua terjaga sehingga menimbulkan keinginan kuat untuk kerja bersama dan gotong royong.

Pancasila jati diri orang-orang Indonesia, selain beragama, adalah terbiasa dengan musyawarah dan gemar bergotong royong. Jadi jika hari ini ada orang yang mengaku Indonesia namun membenci agama, malas bermusyawarah dan bergotong royong maka menurut penulis patut diberikan label tidak pancasilais dan wajib dipertanyakan ke-Indonesiaanya. Sekian. (HSMY).@***Hari